Powered By Blogger

Minggu, 18 April 2010

Makna Syahadat (Bai'ah)

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Pendahuluan
Kalimat syahadat adalah pintu gerbang seseorang menjadi muslim. Ketika seseorang ingin masuk Islam, hal pertama yang dilakukan adalah mengucapkan “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaddar rosuulullaah”. Dengan ucapan tersebut ia otomatis sudah menjadi seorang muslim yang memiliki konsekuensi menjalankan syariat Islam. Kalimat ini pulalah yang menentukan seseorang itu husnul khatimah atau su’ul khatimah di akhir hayatnya. Dengan kalimat ini pula pintu syurga terbuka untuknya.
Konsep yang terkandung dalam kalimat laa ilaaha illallaah adalah konsep pembebasan manusia dari penghambaan apapun kecuali Allah SWT semata-mata. Manusia menafikkan secara langsung segala bentuk ketuhanan yang ada di alam ini, kecuali hanya Allah SWT. Penolakan tersebut bertujuan untuk membersihkan aqidah dari syubhat ketuhanan dan menegaskan bahwa segala arti dan hakikat ketuhanan itu hanya ada pada Allah.
Kalimat syahadah ini memberikan pemahaman kepada kita dalam memahami dan bersikap bahwa tidak ada pencipta kecuali Allah saja, tiada pemberi rizki selain Allah, tiada pemilik selain Allah, tiada yang dicintai selain Allah, tiada yang ditakuti selain Allah, tiada yang diharapkan selain Allah, tiada yang menghidupkan dan mematikan selain Allah, tiada yang melindungi selain Allah, tiada daya dan kekuatan selain Allah dan tiada yang diagungkan selain Allah. Kemudian pengakuan Muhammad Rasulullah adalah menerima cara menghambakan diri berasal dari Rasulullah SAW sehingga tata cara penghambaan hanya berasal dari tuntunan Allah yang disampaikan kepada rasul-Nya.
Oleh karena itu syahadatain menjadi suatu pondasi dari sebuah metode lengkap yang menjadi asas kehidupan umat muslim. Dengan pondasi ini kehidupan Islami akan dapat ditegakkan. Semakin dalam pemahaman kita terhadap konsep syahadatain dan semakin menyeluruh kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka semakin utuh kehidupan Islami tumbuh dalam masyarakat muslim.
II. Definisi Syahadah
1. Secara bahasa, “Asyhadu” berarti saya bersaksi. Kesaksian ini bisa dilihat dari waktu, termasuk dalam aktivitas yang sedang berlangsung dan masih sedang dilakukan ketika diucapkan Asyhadu ini sendiri memiliki tiga arti:
a. Al I’lan (pernyataan), QS. Ali Imran (3 : 18) “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
b. Al Wa’d (janji), QS. Ali Imran (3 : 81) “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman : Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

c. Al Qosam (sumpah), QS. Al Munafiqun (63 : 2) “Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.
2. Secara istilah syahadat merupakan pernyataan, janji sekaligus sumpah untuk beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya melalui :
a. Pembenaran dalam hati (tasdiqu bil qolbi)
b. Dinyatakan dengan lisan (al qaulu bil lisan)
c. Dibuktikan dengan perbuatan (al ’amalu bil arkan)
Menurut hadist : “Iman adalah dikenali oleh hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan rukun-
rukunnya”. (HR Ibnu Hibban)
Setelah memahami syahadah maka akan muncul keimanan, keimanan ini harus terus disempurnakan
dengan sikap istiqomah, QS. Al Fushilat (41)
Istiqomah yang benar akan menghasilkan :
a. Syaja’ah (berani), QS.Al Maidah (5 : 52) “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (yahudi dan Nasrani), seraya berkata: Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.
b. Ithmi’nan (ketenangan), QS Ar Ra’du (13 : 28) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
c. Tafa’ul (optimis)
III. Jenis-jenis Syahadah
a. Syahadah Rububiyah yaitu pengakuan identitas terhadap Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa,
QS. Al A’raf (7 : 172) “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Rabbmu. Mereka menjawab: Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”.
b. Syahadah Uluhiyah yaitu : pengakuan loyalitas terhadap Allah sebagai satu-satunya supremasi yang boleh disembah dan ditaati, QS. Al A’raf (7 : 54) “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam”.
c. Syahadah risalah yaitu pengakuan terhadap diri Muhammad SAW sebagai utusan-Nya beliau adalah suri tauladan bagi manusia, QS. Al Ahzab (33 : 21) “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Hadza wallohi yar’ana wayahfadna walkhamdulillahirobbil’alamin

Selasa, 06 April 2010

“Mencintai Allah dan Berusaha untuk menggapai cinta-Nya”

“Mencintai Allah dan Berusaha untuk menggapai cinta-Nya”


Mahabatullah (cinta kepada Allah) akan timbul manakala seorang hamba merasa begitu dekat dengan Allah, Perasaan ini akan tertanam dan tumbuh bila kita selalu taqarrub kepada Allah dengan ma’rifat yang kuat. Kita tahu dan sadar betapa Maha Kuat dan Perkasa-Nya Allah, namun betapa kasih dan sayang Dia kepada hamba-Nya. Ridla dan cinta-Nya senantiasa Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, selalu taqarrub kepada-Nya.

Allah pun cemburu ketika cinta-Nya dikhianati, yakni ketika seorang hamba lebih mengutamakan cinta kepada selain-Nya. Atau ketika hamba durhaka dan maksiat kepada-Nya. Bila kecemburuan Allah tak pernah kita hiraukan, maka akan berubah menjadi kemurkaan-Nya. Tak seorangpun yang akan sanggup menahan atau menghadapi kemurkaan Allah, Naudzubillahi min dzalik.

Kecintaan kepada Allah tidak akan ada ketulusan dan kemurnian kecuali dengan tauhid yang benar, menjadikan Allah sebagai loyalitas tertinggi dan otoritas mutlak dalam segala hal. Hal ini dilandasi dengan keyakinan kalimat thoyyibah : Laa Maalika illallah, Laa Rozaqa illallah, Laa Waliyya illallah, Laa Hakima illallah, Laa ilaaha illallah, Laa Ma’buda illallah, Laa Makshuda illallah, Lam Yakhsyaa illallah. dst.

Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan melahirkan cinta prioritas yakni menjadikan Allah, Rasul dan Jihad diatas segala cinta selainnya. Ketaatannya kepada Rasul dan Jihad fii sabiilillah dirasakan nikmat dan tenteram karena ketinggiannya cinta pada Allah. Sungguh tidak bisa dipisah antara cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah. Ketiga kecintaan tersebut merupakan satu paket yang tidak bisa dibagi-bagi.

Kecintaan kepada Allah sudah pasti harus dibuktikan dengan mencintai kalamullah atau ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (tertulis), maupun yang Kauniyah (tidak tertulis). Maka tadarus, tadzabur dan amaliyah Al-Qur’an menjadi hal yang utama. Selanjutnya ia mencintai Rasul-Nya dan Jihad fii sabiilillah.

Seorang hamba yang sangat cinta kepada Allah, ia ridla untuk berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah, shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Tawakkal dan rasa kebersamaan dengan Allah senantiasa menyertai perjalanan hidupnya. Ini semua terjadi karena cinta telah melahirkan kedamaian dan ketenteraman, cinta telah membuahkan kerelaan dan kepasrahan totalitas, cinta mendorong diri pada kesiapan berkorban. Dengan cinta lah semua cobaan jadi terasa ringan, segala beban berat menjadi nampak kecil. Namun dengan cinta pula rasa takut dan khawatir ditinggalkan yang dicintai mengharu biru perasaan. Karena itu, berjihadlah dengan cinta yang penuh kepada Allah, dan sambutlah kehadiran sang kekasih sejati di taman hati, serta penuhilah titahnya untuk mentaati Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Loyalitas Kecintaan Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan diantara manusia, ada yang menjadikan dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Berdasarkan ayat ini, sungguh sangat berbeda antara puncak kecintaan orang-orang beriman dan orang – orang yang kafir. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 24.

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Firman Allah ini menjelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang fasik. Allah mengambarkan orang-orang beriman puncak kecintaannya kepada 3 sasaran, yakni kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Sedangkan orang-orang yang fasik, puncak kecintaannya kepada 8 sasaran, yakni; Bapak, anak, saudara, istri, kerabat, harta berlimpah, perniagaan (maisyah), dan tempat tinggal yang disenangi. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik

Dalam mewujudkan ketulusan cinta, tidak selamanya berjalan mulus. Banyak halangan dan rintangan, rayuan dan godaan, cacian dan makian, bahkan ancaman dan intimidasi datang silih berganti. Hanya orang-orang yang ikhlas, yang dapat menikmati ketulusan cinta kepada Allah.

Kecintaan dan keta’atan kepada Allah harus juga dibuktikan dengan ta’at kepada Rasul-Nya, dan ta’at kepada Ulil Amri selama haq (benar), kemudian tanpa ragu-ragu ia beriman dan berjihad di jalan-Nya. (QS. An-Nisaa: 59, An-Nuur: 51, Al-Hujuraat: 15)

Cinta, Terimakasih dan Ma’af

Buah dari cinta kepada Allah dapat melahirkan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Hal itu terjadi karena Islam tidak memisahkan hablu minallah dengan hablu minanas, tidak memisahkan antara aqidah (iman) dengan ukhuwwah (persaudaraan). Oleh karena itu, merawat cinta itu menjadi hal yang penting. Cinta kepada Allah dirawat dengan memprioritaskan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat-Nya serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan.

Demikian pula hubungan harmonis sesama muslim dapat dirawat dengan cinta yang tulus, terima kasih dan ma’af.

Cinta, terima kasih dan maaf.

Tiga kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikan dan meremehkannya. Padahal ketiga kata itu mampu membangkitkan rasa ‘penghargaan’ dan jati diri. Karena cinta, kita merasa disayangi, kita merasa hidup, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai dan dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Ridla berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah. Shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.

Begitupun juga dengan terima kasih, ada rasa penghargaan dalam ucapan itu, ada rasa penghormatan dan kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dan kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dan kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dan merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan. Islam mengajarkan, cara kita mengungkapkan terima kasih dengan ucapan: Jazaakallahu khairan (Semoga Allah membalas kebaikanmu). Adapun maaf adalah bukti kesadaran seseorang, penenang jiwa dan aplikasi dari sikap rendah hati dan cinta kepada Allah. Tidak ada dengki dan dendam dalam ungkapan mohon maaf. Kata maaf dapat menghapus kebencian, dapat menanamkan kecintaan, dapat menghilangkan kegelisahan. Rasa bersalah dapat lenyap dengan ungkapan maaf, rasa iri dapat terkikis dengan maaf yang tulus. Kata maaf merapatkan ukhuwwah (persaudaraan), kata maaf menumbuhkan marhamah (kasih sayang).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah sosok paling ideal dalam mewujudkan cinta, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dan memaafkan. Beliau sangat mencintai keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya. Kecintaannya pada sahabat mendorong pengorbanan luar biasa di Perang Uhud, Hunain dll. Ungkapan terima kasih dan kata maaf beliau ungkapkan, kepada budak sekalipun, tidak ada gengsi dan merasa hina untuk mengungkapkan kata-kata mulia tersebut. Bila perlu Rasulullah melakukan tebusan untuk mendapat kata maaf.

Saat Futuh Mekkah terjadi, ketika sahabat berkata ” Ini hari pembalasan”, Rasulullah bersabda; Bukan, “Ini hari kasih sayang”. Maka beliau pun tidak menolak keislaman Wahsyi dan Hindun yang telah membunuh dan merobek dada Hamzah, pamannya. Sekiranya beliau pendendam, tentu tidak akan mau menerima keislaman Wahsyi dan Hindun.

Demikian pula di akhir hayatnya, beliau Shalallahu Alaihi Wasallam meminta maaf dan minta dibalas jika ada diantara yang hadir pernah disakitinya. Maka berkatalah seorang sahabat bernama Ukasah: Ya, Rasulullah, dalam suatu peperangan, aku pernah terkena pukulan olehmu, maka kini izinkan aku untuk membalasnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mempersilahkannya, Ukasah berkata ; Ya Rasulullah, waktu itu aku dalam keadaan telanjang. Maka Rasul pun membuka bajunya. Namun, begitu dimuka baju Rasulullah, Ukasah merangkul tubuh beliau dan menuturkan : Ya Rasulullah, aku mencintaimu, Maka Rasulullah bersabda : “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Rasa haru biru dan linangan air mata Rasul dan para sahabat saat itu menjadi saksi dan bukti saling mencintai karena Allah. (sumber: Sirah Nabawiyah, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam)

Sudahkah hari ini kita ungkapkan kata cinta, terima kasih dan maaf pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, adik kita, kakak kita, nenek kita, kakek kita, suami kita, isteri kita, sahabat kita, teman-teman kita, dan bahkan kepada para karyawan dan pembantu kita. Banyak cara untuk mengungkapan cinta, terima kasih dan maaf, antara lain: kejujuran pengakuan, perhatian, hadiah, senyuman dan do’a. Sudahkah kata cinta, terima kasih dan mohon maaf terucap dari lisan kita yang tulus pada orang-orang di sekitar kita?

Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta, terima kasih dan mohon maaf atau ampun, kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah, Ridla kepada-Nya dan diridlai oleh-Nya. Amiin.


Hadza wallahi yar’ana wayah fadna walhamdulillahi robbil’alamin

Minggu, 24 Januari 2010

MILLAH IBRAHIM SEBAGAI INDUK AGAMA SAMAWI

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Asalamualaikum wr wb.

Pesan takwa kepada Allah S.W.T. dan menjauhi kejahatan, menjadi inti utama khutbah/taushiyah, yang disampaikan kepada jamaah oleh imam/khatib, sebab: Bertakwa kepada Tuhan Y.M.E., itulah pencapaian hikmat, dan menjauhi kejahatan, itulah kematangan akal budi.
Hikmat adalah: Kepintaran dan kepiawaian mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk mencapai hasil yang dikehendaki. Tempat kedudukan hikmat adalah hati, pusat keputusan moral dan intelektual.
Karenanya, memperoleh hikmat adalah: Memperoleh pengertian, yang dikumpulkan dari pengetahuan tentang berbagai ajaran ilahi dan menerapkannya dalam hidup sehari-hari, merupakan gabungan antara pengetahuan maupun pengertian dengan ketaatan, yang dipandu oleh penekanan bimbingan dari para nabi Allah.
Dari kepercayaan kepada semua itu maka timbullah ungkapan lahiriah/jasadiah yang sering disebut sebagai ibadah/dharma bhakti, atau sering disebut sebagai agama. Respon umat manusia terhadap ketakwaan kepada Tuhan Y.M.E berefek pada timbulnya berbagai bentuk dan macam ibadah (peribadatan) dan wujudnya berbagai agama.
Dalam hal ini menjadi mustahil suatu agama akan menjadi dominan dengan totalitas tunggal dalam menata kehidupan moral maupun sosial. Namun jika para penganut agama-agama (umat manusia) terus berkemauan merujuk kepada ajaran Ilahi, maka agama-agama (umat manusia) akan dapat masuk dalam lingkaran kebersamaan dalam usahanya mencapai tatanan moral maupun sosial kehidupan ini. Interdependensi umat manusia, ternyata harus merambah sampai ke dalam ranah keberagamaan.

Sasaran Ajaran Ilahi
Oleh sebab itu sasaran ajaran ilahi adalah: rahmatan lil ‘alamin, yang maknanya: Rahmat-Nya merambah segala penghuni alam raya ini, maknanya rahmat Ilahi itu tidak eksklusif bagi kelompok maupun kultur tertentu saja, namun sangat majemuk, merambah bagi segala umat manusia yang fitrahnya multikultural.
Karenanya memaknai rahmatan lil ‘alamin seharusnya bukan universalistik, sebab universalistik itu mengandung makna ke arah totalistik tunggal, yang sesungguhnya bertolak belakang dengan fitrah manusia yang multikultural.
Misi ajaran Ilahi adalah rahmatan lil ‘alamin, dari sejak dikumandangkan oleh para nabi Allah hingga kapanpun, para nabi Allah selalu merujuk tuntunannya kepada ajaran Ilahi yang sama. Sekalipun pada prakteknya para pengikut nabi-nabi yang kemudian mengelompok dalam berbagai agama yang kita saksikan kini banyak terjadi “perbedaan” penghayatan maupun interpretasi.

Mengimani Keberadaan Para Nabi adalah Ajaran Ilahi
Para nabi Allah menurut keyakinan dan iman yang diajarkan oleh ajaran Ilahi yang terkandung di dalam Al-Qur’an adalah wajib diimani keberadaannya. Lebih detail lagi ajaran Al-Qur’an secara rinci menyebut nama sebagian mereka yang mesti diimani itu, dari Adam a.s. (nabi pertama) sampai dengan Nabi Muhammad S.A.W. nabi terakhir, walaupun masih ada nama-nama nabi selain sejumlah yang disebutkan itu.
Dalam hal ini Islam mengajarkan penekanan penghormatan kepada para nabi dan dengan segala ajaran Ilahi yang dibawanya. Sebagai ungkapan penghormatan, dalam setiap menyebut nama nabi Allah itu seorang muslim ditekankan agar selalu mengiringi sebutannya itu dengan ungkapan do’a baginya, seperti: alaihis salam atau alaihi sholatu wassalam, yang maknanya: Semoga Tuhan selalu melimpahkan keselamatan dan kedamaian padanya.
Sebagai nabi besar, yang menerima perjanjian Tuhan, Ibrahim a.s. memainkan peranan yang unik, baik dalam tradisi Islam maupun Yahudi.

Di dalam Islam, orang beriman diperintah Tuhan agar bersalawat dan berdo’a selamat untuk nabi (Al-Qur’an), kemudian Nabi Muhammad S.A.W. mengajarkan matan lafalnya kepada sahabat beliau:

قولوا:اللهم صلى على محمد وعلى ال محمد كما صليت على ابراهيم
وبارك على محمد وعلى ال محمد كما باركت على ابراهيم
Yang artinya:

Dalam bershalawat ucapkan:
Semoga Tuhan mencurahkan rahmat dan berkat-Nya kepada Nabi Muhammad sebagaimana Tuhan mencurahkan rahmat dan berkat-Nya kepada Nabi Ibrahim.
Rahmat dan berkat Tuhan untuk Ibrahim a.s. menjadi acuan dalam ungkapan do’a shalawat tersebut. Sebab berbagai tuntunan dan bimbingan keagamaan dalam agama Islam banyak mengacu kepada millah Ibrahim (agama Ibrahim).
Ibrahim a.s. sebagai panutan keagamaan, sekaligus silsilah kenabian atau pribadi nabi-nabi Allah. Nabi Muhammad S.A.W. bernasab kepada silsilah Ibrahim a.s. dari putra beliau Nabi Ismail a.s. sedangkan nabi-nabi bani Israel bernasab kepada Ibrahim a.s. dari putra beliau Nabi Ishak a.s.

Selanjutnya tradisi sunat (khitan) bagi pria, merupakan amalan yang mesti dilaksanakan oleh kalangan muslim, orang-orang Ibrani (Yahudi) juga melakukan amalan ini.
Sering kita dengar seseorang muslim merasa risi dan belum tenang jika putranya belum dikhitan. Juga kepada seseorang pria yang baru memeluk Islam, hal yang sering dipertanyakan adalah, sudah dikhitan atau belum?
Tradisi sunat (khitan) menjadi sangat penting, sekalipun dalam kitab fikih tidak dibahas secara detail.

Sesungguhnya tradisi sunat (khitan) yang yang telah mengakar ini muaranya adalah dari Nabi Ibrahim a.s.. Kutipan dari Suhuf Ibrahim yang terhimpun dalam alkitab perjanjian lama, surat Kejadian 17:9-14, terjemahannya antara lain sebagai berikut: Firman Allah kepada Ibrahim:

“Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun 9,

Inilah perjanjian-Ku yang harus kamu pegang, perjanjian antara aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat (dikhitan)10.

Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu 11.

Anak yang berumur 8 hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun , baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu 12.

Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal 13.

Dan orang-orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khitannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya, ia telah mengingkari perjanjian-Ku 14.

Perjanjian Tuhan tentang sunat (khitan) ini terjadi tatkala Ibrahim a.s. berumur 99 tahun, sedangkan Ismail a.s. berumur 13 tahun (Kej. 7:24-25). Semua perjanjian ini dilaksanakan pada dirinya, putranya (Ismail) dan seluruh kaum laki-laki yang di bawah tanggung jawabnya.

Millah Ibrahim tentang sunat (khitan) ini menjadi tradisi (sunnah) yang terus dilaksanakan dalam Islam, yang tujuannya adalah untuk mencapai ridha Ilahi, sebagai pertanda kedudukan di hadapan Ilahi, bukan semata-mata tradisi yang bersifat sosial.
Sunat/khitan menjadi penjelmaan, penerapan janji, dan mengajak orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai dengan perjanjiannya kepada Tuhan. Sebagian orang jawa menamakan sunat/khitan dengan nama “selam” (mungkin Islam) berarti ketaatan atau penyerahan diri.

Tertumpahnya darah dalam sunat merupakan ungkapan tuntunan yang mahal yang dibuat oleh Allah bagi mereka yang dipilih dan dipanggil-Nya dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya itu (khitan).

Ajaran sunat ini juga menuntut realitas penerapan hidup keseharian, agar seseorang sesuai dengan tanda perjanjiannya dengan Tuhan, dari mengingatkan bahwa tanpa kenyataan berupa ketaatan kepada Tuhan , maka tanda sunat itu menjadi hampa arti.

Selanjutnya tentang ajaran kurban.

Idul Kurban, yang hari ini kita rayakan, dengan melaksanakan shalat dan disusul dengan pemotongan binatang kurban merupakan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W. yang dirujuk dari ajaran Ilahi yang telah dicontohkan oleh nabi Allah Ibrahim a.s. yang dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan “millah Ibrahim”. Ibrahim yang berarti: bapak sejumlah besar bangsa, perubahan dari nama awal Abram yang berarti “bapak yang dimuliakan”. Hidupnya dijadikan teladan iman terhadap Tuhan oleh lapisan orang-orang muslim, baik Islam, Yahudi, juga Nasrani.
Pada Idul Kurban kali ini ingin disampaikan tentang kesinambungan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W., dengan ajaran Nabi Ibrahim a.s. , bukan tentang riwayatnya yang sebagian (kalangan Islam) menetapkan bahwa putra yang akan dikorbankan itu adalah Ismail a.s. bersumber daripada nash Al-Qur’an 37:102:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Dalam ayat ini tidak secara shorih menyebut nama Ismail a.s. namun oleh mufassir dengan isyarat anak yang sudah sampai batas umur dapat/sanggup berusaha, yang sudah mampu diajak tukar pikiran ketika firman pengorbanan itu turun, Ismail a.s. sudah mencapai umur ± 16/17 tahun, sedangkan Ishak baru berumur sapih ± 4 tahun. Penafsir ayat ini menetapkan Ismail a.s. yang dimaksud dengan perintah Tuhan itu.

Sedangkan pihak lain bersumber dari Suhuf yang terdapat dalam Perjanjian Lama Kej. 22:2, ayat ini dengan jelas menyebut nama: anak tunggal yakni Ishak a.s.. Dari kebiasaan yang berlaku pada zaman itu, putra yang dianggap dapat menjadi putra mahkota penerus kepemimpinan adalah anak yang dihasilkan dari pernikahan yang resmi, bunda Sarahlah yang dikatagorikan istri resmi, sedangkan bunda Hajar adalah wanita Mesir yang dijadikan pembantu oleh Sarah untuk keluarga Ibrahim a.s.. Tatkala keluarga Ibrahim a.s.

dan Sarah menyimpulkan bahwa mereka mandul maka Sarah mempersilakan Ibrahim untuk menikahi Hajar pembantunya itu, dan itu menurut budaya pada zamannya sebagai istri yang tidak dapat mewariskan anak sebagai putra mahkota.

Kedua-dua sumber ini tampaknya terdapat “perbedaan” dalam menyebut nama putra yang dikorbankan. Namun dalam prinsip kesediaan menerima ujian besar itu, jawaban dari putra yang akan dikorbankan itu adalah sama, baik dari sumber pertama maupun sumber kedua, yakni, taat setia dengan penuh kesabaran, melaksanakan perintah Tuhan untuk dijadikan korban sembelihan.

Prinsip tunduk patuh, pasrah, dan berserah diri secara tulus kepada Tuhan dengan segala kudrat dan iradat-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. dan kedua putra baginda Ismail a.s. dan Ishak a.s. dalam menerima perintah-Nya melaksanakan penyembelihan terhadap putranya kemudian putranya pun menyambut dengan tulus dan setia hati untuk menerimanya. Sehingga oleh Allah, Ibrahim a.s. yang tulus itu dikisahkan dalam Al-Qur’an S. 3:67

Bahwa Ibrahim bukanlah orang Yahudi dan bukan pula orang Nasrani, namun dia adalah orang yang lurus, lagi berserah diri kepada Allah (muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.

Agama seluruh nabi keturunan Ibrahim a.s. khususnya anak cucu Ya’kub a.s. (bani Israel), dilukiskan oleh Allah dalam kitab suci Al-Qur’an S. 2:133.

Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya’kub, dan ketika ia bertanya kepada anak-anaknya: Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, dan kepada-Nya kami semua pasrah (muslimun).

Kemudian, Nabi Musa digambarkan melalui pertobatan Fir’aun bahwa Nabi Musa, membawa ajaran agar manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Fir’aun berusaha tobat setelah melihat kebenaran, dilukiskan oleh kitab suci Al-Qur’an S. 10:90.

Aku percaya bahwa tiada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang pasrah.
Juga digambarkan tentang Nabi Isa dan para pengikutnya, menunjukkan bahwa agama yang diajarkannya pun adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Allah, diurai dalam Al-Qur’an S. 3:52:

Maka tatkala Isa merasakan keingkaran mereka (kaumnya) berkatalah ia: Siapakah yang akan menjadi pendukungku kepada Allah? Para pengikut setianya menjawab: Kamilah para pendukung (menuju Allah), kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslimun).

Semua agama yang benar adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Allah. Karenanya setiap orang beragama juga seorang muslim, tetap dituntut untuk terus mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan kemauan untuk tunduk patuh serta pasrah dan berserah diri kepada Tuhan dengan setulus hatinya, hanya dengan itu keagamaan seseorang dapat diterima oleh Allah.

Islam dalam pengertian seperti ini mesti dengan iman, seperti Ibrahim a.s. yang seluruh hidupnya membuktikan, bahwa ia sungguh-sungguh percaya kepada Allah dengan iman yang mendalam dan pasrah yang sepenuhnya. Dan itulah Islam.

Hadza wallohi yar'ana wayahfadna wal hamdulillahi robbil'alamin

Minggu, 06 Desember 2009

MADINAH (Tempat berdirinya konstitusi Ilahi)

Madinah adalah nama pengganti dari Yatsrib yang diberikan oleh Rasulullah saw, secara etimologis Madinah sendiri merupakan kata benda yang menunjukkan tempat yang artinya adalah tempat yang dikuasai. Nama Yatsrib sendiri diberikan oleh orang-orang Jahiliyyah, sedangkan Allah swt menamainya Thayyibah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Samurah yang mengatakan "Orang Jahiliyyah dulu menyebut Madinah dengan Yatsrib, kemudian Rasulullah saw menyebutnya Thayyibah."

Perubahan nama tersebut dilakukan Rasulullah saw segera setelah beliau hijrah dari Makkah ke Yatsrib. Hijrah itu sendiri merupakan langkah awal proses terbentuknya Daulah Islamiyah pertama di muka bumi pada saat itu. Hijrah itu merupakan pernyataan berdirinya Negara Islam Madinah di bawah pimpinan Rasulullah Muhammad saw. Sistem yang dibangun Rasulullah saw di Madinah memenuhi syarat-syarat nominal untuk disebut sebagai sebuah negara.

Tulisan ini bermaksud memotret bagaimana kondisi masyarakat Madinah pasca hijrah Rasulullah saw; yang dimaksud dengan masyarakat Madinah dalam tulisan ini adalah masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah saw dalam satu ikatan Tauhid dengan sistem pemerintahan Islam. Secara umum masyarakat Madinah pasca hijrah dapat dibagi menjadi empat periode, yaitu:
1) Periode pertama dari mulai hijrahnya Rasulullah saw sampai masa Qital membela diri.
2) Periode kedua dari mulai masa qital membela diri sampai dengan teratifikasinya Perjanjian Hudaibiyah.
3) Periode ketiga dari mulai diratifikasinya naskah Perjanjian Hudaibiyah sampai dengan terjadinya pembukaan kota Makkah (futuh Makkah).

4) Periode keempat keadaan masyarakat Madinah pasca futuh.

Sesuai dengan judul tulisan ini, maka yang akan dibahas adalah keadaan masyarakat Madinah dalam dua periode pertama.
Periode Pertama
Periode pertama ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun, dimulai dari bulan Rabi'ul awal tahun 1H sampai dengan bulan Rajab tahun 2H. Selama rentang waktu ini Rasulullah saw menerapkan asas-asas penting dari Negara Islam Madinah.
Asas yang pertama adalah pembangunan masjid.

Pembangunan masjid merupakan langkah pertama Rasulullah saw untuk menegakkan masyarakat Islam yang kokoh dan terpadu yang terdiri dari kaum Anshar dan Muhajirin. Hal ini dikarenakan masyarakat Muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapih kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah, dan tatanan Islam. Tujuan ini dapat tercapai dengan menumbuhkan 'semangat masjid'.

Di antara sistem dan prinsip Islam ialah tersebarnya ikatan ukhuwah dan mahabbah sesama kaum Muslimin. Ikatan ini akan tercapai dengan bertemunya kaum Muslimin setiap hari dan berkali-kali dalam rumah Allah swt sampai terhapusnya perbedaan pangkat, kedudukan, kekayaan serta status dan atribut lainnya. Semangat persamaan dan keadilan dalam setiap aspek kehidupan akan terwujud dengan tersusunnya kaum Muslimin berkali-kali dan setiap hari dalam satu shaff di rumah Allah swt. Kesatuan kaum Muslimin hanya akan terwujud dengan disatukannya mereka dalam tali Allah swt yang terbentuk dengan kebersamaan mereka dalam berdiri, ruku, dan sujud di rumah Allah swt, dengan mempelajari dan menerapkan syari'at-Nya secara sempurna.
Asas kedua adalah ukhuwah sesama kaum Muslimin.

Negara manapun tidak akan berdiri tegak tanpa adanya kesatuan dan dukungan ummatnya, sedangkan kesatuan tidak akan lahir tanpa adanya persaudaraan dan saling mencintai. Suatu jama'ah yang tidak disatukan dengan persaudaraan dan saling mencintai tidak akan mungkin dapat bersatu dalam suatu prinsip. Persaudaraan semacam ini harus didahului oleh aqidah yang menjadi ideologi dan faktor pemersatu. Persaudaraan antara dua orang yang berbeda aqidah dan ideologi adalah mimpi yang semu, dan karena itulah Rasulullah saw menjadikan aqidah sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabatnya dan menempatkannya dalam satu barisan ubudiyah hanya kepada Allah swt tanpa perbedaan apapun kecuali iman dan amal shaleh. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa asas ukhuwah ialah ikatan Islam.

Asas ketiga adalah perjanjian antara kaum Muslimin dengan orang di luar Islam.
Perjanjian atau dalam istilah modern disebut 'dustur' yang dibuat Rasulullah saw berdasarkan kepada wahyu Allah yang dijadikan sebagai Qanun Azasi yang disepakati menunjukkan bahwa masyarakat Islam sejak awal masa pertumbuhannya tegak berdasarkan perundang-undangan yang sempurna. Hal ini merupakan satu bukti bahwa Negara Islam sejak awal berdirinya telah ditopang oleh perangkat perundang-undangan dan manajemen yang diperlukan oleh setiap negara.

Perangkat ini merupakan asas yang diperlukan bagi setiap pelaksanaan hukum-hukum syari'at Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, hukum-hukum syari'at tersebut secara umum didasarkan kepada pemikiran kesatuan ummat Islam dan masalah-masalah struktural lainnya yang berkaitan dengannya. Negara tidak akan terwujud manakala sistem perundang-undangan tersebut tidak ada.

Negara Islam Madinah yang dibangun oleh Rasulullah saw dari semenjak berdirinya sudah dihadapkan pada situasi konfrontatif dengan kekuasaan kafir Quraisy di Makkah. Para pendukung Darun Nadwah tidak rela melihat Daulah Islam yang dibangun Rasulullah saw tampil menjadi satu kekuatan yang bisa mengancam eksistensi mereka. Mereka kemudian mengeluarkan keputusan bersama untuk menggalang dan mengerahkan seluruh kekuatan bersenjata untuk menghancurkan Madinah, sebagaimana yang kemudian diinformasikan Allah melalui surat al-Anfal (8):30 kepada Nabi-Nya saw.
Menyadari kenyataan seperti itu Rasulullah saw tidak tinggal diam, beliau segera mempersiapkan masyarakat Madinah untuk memiliki kesiapan dalam menahan dan menggagalkan setiap usaha invasi Makkah ke Madinah. Dalam Piagam Madinah sudah diatur bagaimana kewajiban setiap warga untuk mempertahankan eksistensi Madinah dari setiap kemungkinan serbuan kekuatan Makkah. Bahkan semenjak sebelum hijrah ke Madinah Rasulullah saw sudah mempersiapkan kekuatan militer dengan melakukan bai'at aqabah kedua yang menuntut kesiapan dan kesanggupan Anshar untuk membela Rasulullah saw seperti membela anak dan isterinya, dalam satu peristiwa dramatik ketika Rasulullah saw didampingi Abbas bin Abdul Muthalib menemui 74 orang delegasi Madinah di Aqabah. Apalagi pada saat itu telah turun wahyu kepada beliau saw yang isinya izin dari Allah untuk mengangkat senjata bagi orang yang diperangi (al-Hajj (22):39).
Allah swt berfirman dalam ayat tersebut, "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka."

Kenyataan ini semakin dipertegas dengan diturunkannya surat al-Baqarah (2):216, "Diwajibkan atas kamu berperang...". Dengan turunnya ayat tersebut Rasulullah saw dan para sahabatnya di kalangan Muhajir dan Anshar memiliki landasan wahyu untuk melakukan upaya perlawanan dalam rangka membela diri dan mempertahankan eksistensi Negara Islam Madinah dari setiap agresi militer pihak kafir Quraisy. Ayat tersebut juga mengakhiri periode pertama masyarakat Madinah. Masa yang penuh dengan langkah persiapan Rasulullah saw dalam membina masyarakat Madinah, meletakkan asas-asas masyarakat Muslim, membina kesiapan dan ketangguhan mereka untuk mempertahankan eksistensi Madinah sebagai wujud dari zhohirnya Mulkiyah Allah swt.
Periode Kedua
Periode kedua masyarakat Madinah dihiasi dengan berbagai perisitwa heroik ummat Islam dalam mempertahankan Daulah Islam dari setiap agresi militer pihak kuffar. Masing-masing peperangan ini merupakan tindak balasan atau counter attack terhadap persekongkolan atau permusuhan yang dilancarkan pihak kuffar dan musyrik. Pembahasan periode kedua masyarakat Madinah dalam tulisan ini akan ditekankan kepada beberapa peristiwa penting saja. Bahasan tersebut untuk menunjukkan bagaimana gigihnya usaha Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam mempertahankan eksistensi Madinah dan sebagian besar pasukan pemanah yang turun membantu kawan-kawannya ke kancah pertempuran dengan meninggalkan posnya.

Kejadian ini dimanfaatkan Khalid bin Walid dan Ikrimah untuk mengadakan serangan balik terhadap kaum Muslimin yang mengakibatkan terdesaknya pasukan kaum Muslimin. Rasulullah saw sendiri sampai terperosok ke dalam lubang dan menderita luka di bagian wajahnya oleh hantaman batu dan lemparan tombak musuh. Para sahabat seperti Abu Dujanah, Ziyad bin Sakkan dan Ali bin Abi Thalib menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup untuk melindungi Rasulullah saw. Abu Dujanah syahid, Ziyad bin Sakan syahid bahkan menghembuskan nafas terakhirnya di kaki Rasulullah saw. Hamzah syahid dengan perut terbelah dan hidung serta telinga putus.

Keadaan tersebut diperkeruh dengan desas-desus yang muncul dari kaum Munafiq yang mengatakan Rasulullah saw wafat dan mereka menghasut sahabat lain untuk lari dari peperangan. Mereka mengatakan, "Buat apa kalian berperang untuk mencari kematian, toh Muhammad sudah mati?"

Anas bin Nadhar yang mendengar seruan tersebut berteriak, "Buat apa kalian hidup jika Rasulullah saw sudah wafat?" Lalu dia kemudian menghumus pedangnya dan menghambur ke tengah pasukan Quraisy sehingga menemukan kesyahidan. Peristiwa ini semakin menunjukkan karakteristik dan figur-figur Munafiq di kalangan penduduk Madinah di sekitar Rasulullah saw. Sepulangnya dari Uhud kaum Munafiq semakin gencar menghina dan mengejek kaum Muslimin dengan ungkapan yang menghinakan. Celotehan mereka dikomentari al-Qur'an dengan ungkapan, "Dan orang-orang yang tidak turut dalam berperang itu berkata: 'Sekiranya mereka mengikuti kita tentulah mereka tidak terbunuh'. Katakanlah: 'Tolaklah kematian itu darimu jika kamu orang-orang yang benar'." (Qs.Ali-'Imran (3):168)

Sikap bermusuhan orang Munafiq semakin kentara dengan terjadinya fitnah terhadap Siti Aisyah ra, yang dalam sejarah dikenal dengan peristiwa Haditsul Ifki. Dalam peristiwa ini Siti Aisyah ra difitnah terlibat perselingkuhan dengan Shafwan bin Mu'athal seorang sahabat Rasulullah saw setelah peperangan Bani Musthaliq. Berita bohong tersebut disebarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul seorang gembong Munafiq di zaman Nabi. Peristiwa tersebut ditegaskan dalam surat an-Nur (24):11-21. “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar

Puncak permusuhan kalangan kufar Quraisy dan Musyrikin Makkah dengan kalangan Munafiq Madinah serta Yahudi terjadi dalam peristiwa peperangan Ahzab atau Khandaq. Menurut Ibnu Ishaq dan Jumhur Ulama sirah peperangan ini berlangsung pada bulan Syawal tahun 5H, ada juga yang mengatakan tahun 4H. Peristiwa Ahzab sendiri diawali dengan pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir yang berangkat ke Makkah dan mendorong Quraisy untuk melancarkan perang terhadap Rasulullah saw. Dalam peristiwa ini pasukan Ahzab yang terdiri dari kufar Quraisy dan Musyrikin Makkah mengepung Madinah selama lima hari, karena mereka tidak bisa berlanjut menyerbu Madinah akibat terhalang parit yang digali kaum Muslimin di sekeliling Madinah. Pengepungan pasukan Ahzab sendiri akhirnya bubar setelah terjadi perpecahan intern yang disebabkan muslihat 'adu domba' Rasulullah saw. Muslihat tersebut dilakukan oleh Nu'aim bin Mas'ud, seorang Muslim yang tidak diketahui keislamannya, untuk memecah belah persatuan pasukan Ahzab. Pertolongan Allah berupa topan memporak-porandakan pasukan tersebut, kemah-kemah mereka runtuh, sarana dan prasarana mereka porak-poranda dilanda topan yang besar. Kesemuanya memaksa mereka untuk angkat kaki dari Madinah.
Dari peristiwa tersebut nampak beberapa ibrah, antara lain bahwa:

1) Kaum Muslimin tidak boleh mengabaikan akalnya yang merdeka dan pikiran yang cermat untuk mengatasi hambatan. Mereka harus fathonah sepanjang cara tersebut tidak melanggar syar'i. Hal ini ditunjukkan dengan syiasah perang yang dilakukan dengan penggalian parit yang merupakan usulan Salman al-Farisi. Satu bentuk taktik perang yang saat itu belum dikenal oleh bangsa Arab. Sehingga Abu Sufyan mengatakan "Demi Allah, ini bukan cara berperang bangsa Arab" ketika pasukannya menemui hambatan berupa parit.

2) Kaum Muslimin adalah satu ikatan komunitas tauhid yang sederajat, yang ditunjukkan dengan kebersamaan mereka dalam penggalian parit. Rasulullah saw sendiri sebagai seorang pimpinan turun tangan untuk bersama-sama menggali parit, bahkan ketika kaum Muslimin terhambat penggaliannya dengan adanya batu besar yang tidak bisa dihancurkan, Rasulullah saw yang turun menghancurkannya.

3) Dalam peristiwa tersebut juga terlihat bagaimana sikap Rasulullah saw yang melakukan test case untuk mengetahui kesiapan para sahabatnya dengan menawarkan kepada para sahabat untuk mencari jalan damai dengan suku Ghataffan. Sikap para sahabat yang menolak usulan tersebut menjadikan indikasi kesiapan mereka untuk bertempur habis-habisan yang menjadikan dasar objektif kesiapan mereka. Karena seorang pimpinan tidak boleh membawa pengikutnya ke dalam kancah pertempuran yang sengit tanpa pemahaman yang jelas dari pengikutnya akan resiko tindakan tersebut.
4) Pertolongan Allah akan senantiasa diberikan manakala ummat penegak risalah-Nya tetap konsisten, sabar, ikhlas, dan tawakkal dalam menghadapi berbagai kendala dan hambatan dalam menegakkan munculnya karakteristik Munafiq di Madinah serta pengkhianatan Yahudi terhadap naskah perjanjian yang telah disetujui.
Dari peristiwa dalam Perang Badar dapat diambil satu ibrah penting, yaitu: Perang Badar merupakan tarbiyah illallah bagi kaum Muslimin yang dengan jelas tergambar dalam firman Allah dalam surat al-Anfal (8):7, "Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar (membuktikan kebenaran) dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang Kafir."
Pada awalnya kaum Muslimin keluar dari Madinah untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan yang datang dari Syam. Tetapi Allah menghendaki ghanimah dan kemenangan yang lebih besar lagi bagi hamba-Nya, di samping merupakan tindakan yang jauh lebih mulia dan lebih sejalan dengan tujuan yang harus dicapai kaum Muslimin. Allah meloloskan kafilah dagang Abu Sufyan dan justru menghadapkan kaum Muslimin dengan peperangan yang tidak pernah mereka duga. Peristiwa ini menunjukkan bahwa harta kuffar adalah halal untuk dirampas oleh kaum Muslimin manakala mereka mampu untuk mengambilnya. Hukum ini telah disepakati para fuqaha. Akan tetapi kendatipun hal ini diperbolehkan, Allah menghendaki langkah yang lebih mulia dengan cara berjihad dan berkorban harta bahkan jiwa di jalan-Nya. Al-Maut ayyatu hubbi shadiq (Mati adalah bukti cinta yang paling tinggi).

Para sahabat yang terguncang hatinya dengan kondisi tiba-tiba yang dihadapinya ditenangkan Allah dengan ungkapan Rasulullah saw yang menegaskan bahwa kemenangan telah diperoleh kaum Muslimin. Bahkan Rasulullah saw menunjukkan tempat-tempat di mana dan siapa saja yang akan roboh terbunuh dalam peperangan tersebut. Sekalipun demikian Rasulullah saw sepanjang malam menjelang pertempuran tersebut berlangsung tetap berdiri dalam kemahnya untuk bermunajat kepada Allah memohon kemenangan diberikan kepada kaum Muslimin. Satu sikap ubudiyah yang menghantarkan manusia kepada kedekatan dengan Allah swt, sikap merendahkan diri di hadapan Allah yang mengundang datangnya pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Segala musibah yang diterima hanyalah mengharuskan manusia berlari kepada Allah untuk menyerahkan diri dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Khaliq yang Maha Perkasa. Itulah sikap ubudiyah Nabi yang merupakan harga yang harus dibayar untuk sebuah pertolongan Allah, "Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya akan Aku datangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang secara gelombang." (Qs.8:9)
Pada periode kedua ini kaum Muslimin dihadapkan pada sikap pengkhianatan Yahudi (Bani Qainuqa) terhadap perjanjian di antara penduduk Madinah. Peristiwa ini menurut Ibnu Hisyam yang diriwayatkan dari Abdullah bin Ja'far adalah diawali dengan penghinaan sekelompok Yahudi terhadap seorang wanita Muslimah. Akibat tindakan tersebut orang Yahudi tersebut dibunuh oleh seorang Muslim yang mengetahui dan menyaksikan bagaimana aurat bagian belakang wanita Muslimah tersebut tersingkap akibat perbuatan seorang tukang sepuh Yahudi yang mengkaitkan pakaian Muslimah tersebut. Laki-laki kaum Muslimin tersebut kemudian dikeroyok oleh orang-orang Yahudi di pasar tersebut sehingga syahid. Ketika Rasulullah saw akan menghukum kaum Yahudi tersebut Abdullah bin Ubay datang menghalangi Rasul menjatuhkan hukuman sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Rasulullah kemudian mengusir Yahudi Banu Qainuqa dari Madinah. Peristiwa ini dijelaskan dalam al-Qur'an surat al-Maidah (5):51-52 tentang larangan mengambil orang Yahudi sebagai pemimpin.

Peristiwa ini hanyalah menunjukkan bagaimana kedengkian di kalangan orang Yahudi sudah berurat berakar dalam hati mereka, sehingga ketika ummat Islam memperoleh kemenangan dalam peperangan Badar kebencian tersebut mencuat ke luar. Kedengkian mereka terlihat dengan sikap pongah Yahudi yang meremehkan kemenangan ummat Islam dan tindakan jahat mereka dalam peristiwa di atas. Peristiwa tersebut di atas juga menunjukkan bagaimana sikap Munafiq yang menyimpan kedengkian dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin. Tetapi kendati demikian peristiwa tersebut juga mengajarkan bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim terhadap seorang Munafiq. Islam memiliki dua aspek hukum, yaitu hukum syar'i yang diterapkan di dunia di bawah kendali seorang khalifah dan hukum Allah kelak di Yaumul Akhir di hadapan mahkamah pengadilan Allah yang Maha Adil. Seorang Munafiq seperti Abdullah bin Ubay tetap diperlakukan sebagai seorang Muslim, bahkan permintaannya untuk membebaskan Yahudi Qainuqa yang melanggar perjanjian dengan Rasul diluluskan. Aspek hukum pertama harus didasarkan kepada bukti empirik dan fakta nyata, sedangkan aspek ruhaniah Allah-lah yang akan menghukumnya kelak di pengadilan Illahi di negeri Akhirat.

Peperangan Uhud adalah kejahatan pahit yang diderita oleh kaum Muslimin, akan tetapi peperangan ini juga menunjukkan bagaimana kecintaan para sahabat terhadap pemimpinnya Nabiyullah Muhammad saw. Ketika kemenangan kaum Muslimin berubah menjadi bencana akibat ketelodoran risalah-Nya. Sikap tersebut di atas hanyalah akan wujud dengan adanya bekal aqidah yang benar dalam dada setiap Muslim.
Periode kedua ini berakhir dengan ditanda-tanganinya naskah Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqaidah di penghujung tahun 6H. Peristiwa ini sesungguhnya merupakan tadbir Illahi yang merupakan rahasia Illahi. Oleh karena itu alangkah wajarnya jika kaum Muslimin yang hadir di peristiwa tersebut sama terkejut dan terperanjat melihat peristiwa tersebut, dikarenakan mereka lebih banyak mengandalkan pemikiran dan pertimbangan sendiri. Perdamaian ini hakekatnya adalah muqadimah menuju kepada futuh Makkah. Segera setelah perdamaian tersebut ditanda-tangani dan diumumkan, maka terjadilah gelombang da'wah yang luar biasa di kalangan penduduk Madinah dan sekitarnya. Ummat Islam memiliki keleluasaan untuk menjelaskan tentang Islam dan melancarkan da'wah yang universal. Sehingga ummat yang masuk ke dalam barisan Rasulullah saw bahkan lebih banyak dari sebelum peristiwa itu terjadi. Oleh sebab itulah al-Qur'an menamai peristiwa ini sebagai fathan mubina (Qs.48:1).

Hikmah lainnya adalah, dengan peristiwa tersebut Allah menunjukkan perbedaan yang sangat jelas antara wahyu dan rekayasa pemikiran manusia, antara bimbingan Nabi dan pemikiran seorang jenial, antara ilham Illahi yang datang dari alam luar sebab-akibat dan memperturutkan sebab-akibat. Barangkali inilah salah satu bentuk ungkapan al-Qur'an: "Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat" satu bentuk pertolongan yang unik, yang merupakan rekayasa Illahi, sehingga menyentak setiap akal manusia, karena kesemuanya merupakan tadbir Illah yang hanya akan difahami oleh manusia seperti Nabi saw yang berjalan, berucap, dan berbuatnya senantiasa di bawah bimbingan wahyu.

Rabu, 26 Agustus 2009

MUSTIKA SIFAT CAI

“Lamun rayat nagara ariman tur taraqwa, tinangtu bakal ginuluran barokah ti langit jeung bumi, tapi maranehanana daroraka, mangka pinanggih jeung kasusah/siksaan anu dilantarankeun ku kadorakaanana” (QS 7/196).

Cai mangrupakeun salah sahiji tina opat unsur alam (bumi, cai, angin, seuneu), anu bisa ngajirim dina rupa-rupa bentuk, kitu oge ngarana bisa jadi puluhan/ratusan/rebuan gumantung kana patempatan jeung samara anu dikandungna, aya cai laut, cai hujan, cai leuncang, cai ibun, cai walungan, cai nyusu, es, sirop, cikopi, cai teh, jus, jrrd. Kahirupan moal lumangsung lamun salah sahiji tina opat unsur alam ieu dileungitkeun ku nu ngadamelna, boh caina, bumina, seuneuna atanapi angina. Cai ngalimpudan sakabeh tilu pertala alam, di langit cai ngawujud haseup, di darat cai ngawujud laut/walungan jsb, di jero taneuh cai cicing sajeroning cadas/batu. Tegesna cai aya dimana-mana, dimana manusa aya didinya cai aya, di langit aya cai, di darat aya cai, di laut aya cai, dina tatangkalan aya cai, dina batu aya cai, dina wangunan gedong aya cai (tembok diaduk make cai), dina mobil aya cai (cai radiator, cai aki), dina wujud manusa aya cai, dina sasatoan aya cai, dina tutuwuhan aya cai, dina radio aya cai, dina komputer aya cai, dina setrika aya cai, meh sakabeh alat anu dijalankeun make tanaga listrik pasti ngandung unsur cai sabab listrik dijieun tina tanaga cai.

Lamun manusa geus bisa ngabedakeun cai murni tina sagala wadah, samara, jeung bentukna, hartina manusa geus wawuh kana mustikaning cai. Jadi teu salah-salah teuing jeung teu bener-bener teuing lamun aya anu nyebut cai kana tatangkalan, kana angin, kana wangunan gedong, kana wahangan, kana es, kana mobil, kana meja, kana korsi, kana lomari, kana radio, kana televisi, kana kadaharan (sangu, roti, bubuahan, daging), jeung sajabana, sabab kabehanana kalimpudan/kungsi kalimpudan ku cai. Sing saha anu hayang panggih jeung cai, tempo jeung regepkeun naon-naon anu aya di hareupeunana, tangtu papanggih, ngan panggihna aya anu pajonghok aya anu teu pajonghok, atawa panggihna teh ku teu kapanggih.

Demi pasipatan cai seukeut kaditu kadieu, hartina bisa jadi pahala lamun kaluar sifat jamal-na, oge bisa jadi mamala lamun keur kaluar sifat jalal-na, kakuatan pangaruhna mah meh sarua. Salalawasna ieu sipat jalal jeung jamal teh muncul babarengan saitungan waktu, tina hiji waktu aya manusa anu keur ngarasakeun jamalna cai, tina waktu anu sarua oge aya manusa anu ngarasakeun jalal-na tina cai. Tina hiji waktu aya jalma anu keur ngarasakeun kanikmatan anu datang tina cai, tina waktu anu sarua aya oge jalma anu keur ngarandapan kasusah kulantaran cai. Cai bisa jadi sumber kahirupan, oge cai bisa ngakalakeun jelema nepi ka nembahan patina, geus loba catetan tina sajarah yen cai pernah ngabalukarkeun rebuan/jutaan manusa pinanggih jeung ajal, sabalikna sakabeh manusa di dunya kalimpudan ku mangpaat anu dikaluarkeun ku cai. Ceuk sakaol mah cai teh mangrupakeun gambaran sipat Pangeran anu aya di dunya.

Nyakitu oge tina hiji waktu aya anu keur ngarandapan peuting, oge aya anu keur ngarandapan beurang. Beurang jeung peuting ngajadi babarengan, henteu piligenti, ngan patempatanana anu piligenti. Sifat jalal jeung sifat jamal leumpang sarimbagan, kitu mungguh anu Maha Sampurna, moal disebut sampurna lamun wawarehan, aya hiji euweuh hiji, aya beurang euweuh peuting, aya bener euweuh salah, aya susah euweuh senang, aya panas euweuh tiis, aya beunghar euweuh sangsara, aya gaib euweuh galib, aya pait euweuh amis, jsb. Salaku manusa wajib tumarima kana sagala kajadian anu karandapan, ulah resep kana senang wungkul matak ngewa kanu susah, ulah resep kanu beunghar wungkul matak karunya kanu sangsara, ulah betah di beurang wungkul matak suwung waktu peuting. Anu matak aya paribasa Sunda , “Ulah ngewa ka halodo, matak senang ka palika. Jeung ulah ngewa kana ngijih matak senang bapa tani”. Teges pisan kumaha pantesna manusa nempatkeun sikap salaku makhluk Nu Maha Kawasa.

Tina lalakon pawayangan aya anu disebut Ajian Pancasona, nyaeta ajian anu ngandelkeun kana wewesen cai, pangaruhna bisa seukeut kaditu kadieu, keur deleka bisa, keur tutulung oge bisa, sarua wae matihna mah, gumantung kanu metakeunana. Basa Ajian Pancasona dicepeng ku Raden Subali, wewesena mawa barokah keur manusa sabudeureunana, sabalikna ari keur dicepeng ku Rahwana mah malah jadi mamala ka balarea. Tina lalakon wayang sejena aya anu katelah “Talaga Pancuran”, sirah cai anu mere kahirupan ka rahayat Amarta dibendung ku Bima tur ngabalukarkeun rahayat sajeroning nagri jadi katalangsara, sangsara kadungsang-dungsang, sawah garing, pepelakan pararaeh, dahareun hese, jsb. Demi anu ngalantarankeunana nyaeta Bima ngarasa keuheul kana kalakuan rahayatna anu geus heunteu malire tur teu mupusti deui kana Talaga Pancuran titinggal karuhuna, leuweung dibukbak dijieun paimahan, walungan dijadikeun pamiceunan runtah, pasawahan disulap jadi toko-toko, sirah cai dijadikeun hotel, jeung sajabana. Ku dibendungna sumber cai ku Bima, kakara sakabeh rahayat Amarta sadar kana pentingna cai keur kahirupan manusa kabeh, tapi orokaya Bima henteu daekeun ngudar bendunganana sanajan para dewa ti kahiangan turun ka marcapada geusan ngelingan Bima, kabeh teu aya nu metu sahingga Bima dilelerkeun ku Dewa Kamanusaan, nyaeta Semar anu ngagaduhan tugas babakti ka umat manusa sajagat, sarua jeung cai anu tugasna babakti ka manusa sakuliah dunya, teu dengdek topi, arek manusa jujur, jahat, beunghar, sangsara, islam, hindu, budha, atheis, kapercayaan, animisme, dinamisme, jsb, kabeh kalimpudan ku sifat asihna cai.

Dina lalakon wayang sejena, anu pakuat pakait jeung pentingna cai nyaeta Rama Tambak, harita Batara Rama anu parantos samagring sabalad-balad bade ngajorag Dasamuka ti nagri Alengkadireja, kapegat ku sagara anu misahkeun Guakiskenda sareng nagri Alengka. Mangka Batara Rama metakeun ajianana geusan menta tulung ka Dewa Baruna anu ngawasa laut, demi anu diseja nyaeta sangkan Dewa Baruna nyaatkeun lautna saharitaeun keur mere jalan meuntas pasukanana. Beak mantra beak kalimah, laut henteu saat-saat, akhirna Batara Rama bendu lajeng mesat gondewana bade mentang laut ku senjata warisan ti Rama Bargawa. Sakiceup saencan panah melesat tina gondewa, Batara Baruna megat terus mepeling, yen naon anu dipiharep ku Rama henteu diluyuan ku Sanghyang Wenang, sabab bakal maruksak mangjuta-juta makhluk anu merelukeun cai. Sabalikna, Batara Rama salaku titisan Wisnu kudu ngaheulakeun kapentingan balarea disagigireun kapentingan pribadi. Ngajaga cai sarua pentingna jeung ngajaga manusa.

PASIPATAN CAI

Cai ngabogaan sabababaraha sipat anu bisa dilenyepan:

1. Bener
Tingkah paripolah cai tara nista tina aturan alam, bener salawasna, luyu kana tujuan diciptakeunana cai nyaeta pikeun ngaping kahirupan makhluk sapangeusi dunya. Sakali waktu cai oge remen ngelingan ka umat manusa dimana manusa geus mopohokeun fitrah alam, sangkan baralik deui kana kahirupan anu bener, anu saluyu jeung aturan hirup.

2. Jujur
Cai tara linyok tara bohong, dimana-mana rupa jeung sipat cai sarua, ngaran terus kana wujud, wujud terus kana rupa, rupa terus kana sipat, sifat terus kana rasa. Keur dingaranan es wujudna padet, rupana herang, sipatna netep, rasana tiis. Jujurna cai teu pandang tempat jeung kaayaan, rek dihareupeun manusa, rek dihareupeun sato, oge rek dihareupeun tutuwuhan, cai salalawasna mintonkeun kajujuran.

3. Pinter
Kapinteran cai katingal tina kamampuhanana nyesuaikeun kaayaan dirina gumantung kana alam anu keur disinghareupan. Cai oge bisa nerus bumi ngambah jomantara, di alam tiis cai bisa jadi es, di alam panas cai bisa jadi haseup, tapi tetep cai bisa ngigelkeun jeung ngigeulan alam sabudeureunana. Tegesna cai bisa ngungkulan sagala pasoalan anu ditibankeun ka dirina.

4. Kuat
Kakuatan cai anu pilih tanding moal bisa ditumpurkeun, sabab kakuatanana ngabaju reujeung wujudna. Cai sanggup malidkeun sapangeusi dayeuh, cai sanggup ngaratakeun gunung, cai bisa nyieun gunung, cai sanggup ngeueum jagat, cai sanggup nyaangan (listrik) saalam dunya, jeung sajabana. Aya paribasa Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, batu anu sakitu teuasna beunang dipahat ku cikaracak anu teu sabaraha teuas. Tapak-tapak cai nembongkeun katohagaanana beunang dijieun bahan tafakur pikeun jalma anu mikir.

5. Adil
Cai ngabogaan sipat adil hartina teu pandang basa, agama jeung bangsa, uteuk tongo walang taga di satungkebing langit gkaraking jagat, salarea kabagi walatra mangpaatna tina cai. Cai anu asal ti Nu Maha Adil, ngabogaan sifat adil anu bisa dirasakeun di sakabeh makhluk.

6. Wani
Wani ngandung harti teu mundur tina nyinghareupan sagala rupa kaayaan tur cocoba, cai ngabogaan sifat anu wani sabab cai pantang mundur nyinghareupan kaayaan. Dipalidkeun ka laut cai turut, di bawa ka darat cai rikat, di tiup ku angin cai ngangin, dibendung ngabarung, nyinghareupan seuneu ludeung, nyorang kanu poek oge daek, tegesna taya kasieun taya karingrang, sanggup nandingan kanu aya di handap, di tengah jeung di luhur kalayan papak.

7. Asih
Makhluk cai anu asal ti Nu Maha Asih, ngawaris sifat-sifat asih tur dipintonkeun ku mere mangpaat ka sasama makhluk. Asihna cai walatra ngabagi sakabeh makhluk. Keur nu kahausan cai bisa mere kasegeran, keur kokotor cai bisa ngaberesihan, keur patani cai mere kasuburan, keur makhluk di laut cai mere kahirupan, keur makhluk di darat nyakitu keneh. Sagala kaayaan disinghareupan ku cai make dadasar asih, handap asor, tenang, jeung pasti.

8. Sadar, Sabar tur Tawekal
Cai digelarkeun ka alam dunya ku kersaning Nu Maha Kawasa, kalayan ngemban tugas ngaping kahirupan. Dibere tugas sakitu beuratna cai tumarima, teu ngajukeun naek banding atawa protes, sabab cai boga sifat sadar, sadar salaku abdi gusti pikeun ngawula ka sasama.

Ku manusa cai dipake sagala rupa kabutuhan hirup, tapi cai sabar tumarima kana takdir diri, teu humandeuar bari terus geten babakti. Dijieun bahan inumeun, dipake masak, dipake kukumbah, dialirkeun kana kolomberan, diasupkeun kana septic tank, dipake meresihan kokotor, dipake paniisan mesin, dijieun pusat tanaga listrik, jrrd, sakabehna ditedunan ku cai.

Demi sipat tawekal cai katingal tina tarekahna ciibun janari anu digelarkeun ku angin peuting, neangan jalan pangbalikan ka alam asal nyaeta laut. Salila kumelendang di darat, sakeclak cai manggihan mangpirang-pirang kangeunah jeung katugeunah, ti mimiti cicing ditempat anu pangmulyana, nepi ka cicing di tempat anu pikageuleuheun. Tapi manehna teu poho kana tujuan mimiti nyaeta balik deui ka laut, tempat dimana asal ngajadi. Katawekalan cai sanggup ngungkulan sagala bangbaluh, dimana pinanggih jeung hahalang, cai ikhtiar ngumpulkeun wewesena sangkan bisa leupas tina hahalang. Kitu saterusna nepika sakeclak cai balik deui nepi ka asal nyaeta laut, bari mawa rupa-rupa hasil.

Masih loba keneh sipat cai anu bisa diguar jeung bisa dijadikeun eunteung keur kahirupan manusa, sifat-sifatna bisa diconto jeung diterapkeun kana hirup kumbuh sasama hirup.

WALUNGAN CITARUM

Citarum hiji walungan gede anu meulah Tatar Pasundan ti belah tengah ka belah wetan, dimimitian ti suku Gunung Wayang malibir ka tengah kota Bandung terus ngamuara ka laut Jawa.

Sajarah ti Tatar Sunda anu aya patula-patalina sareng kahirupan cai nyaeta: Dewi Sumur Bandung (di Bandung), Talaga Sangiang (Majalengka), Talaga Pancawarna (Puncak Bogor), Talaga Pancuran (Situ Lembang), Situ Bagendit (Garut), Sangkuriang (Lalakon ngabendung Citarum), Situ Lengkong (Panjalu), Situ Cangkuang (Leles Garut), Curug Tujuh (Cimanganten Garut), Curug Panganten (Cimahi), Dewi Roro Kidul (Laut Kidul), Sangyang Batara Saraga (Laut Jawa), jrrd.

Citarum asal kecapna tina Cai + Tarum, disingket janten Citarum. Tarum salah sahiji pepelakan sabangsaning babadotan, jotang, antanan, jrrd sok jaradi dina galengan anu deukeut kana cai, umpamana dina sisi walungan atawa galengan sawah. Ngaran Citarum bisa jadi dilantarankeun ku lobana tarum di sabudeureun Citarum.

Sirah Citarum anu aya di Gunung Wayang, mangrupakeun saksi sajarah tur ulubiung kana mangrupa-rupa kajadian alam Pasundan khususna, alam dunya umumna. Gunung Wayang anu mangrupakeun `pawayangan ing manusa` geus nurunkeun sumber kahirupan keur umat manusa sadunya ku jalan ngocorkeun Citarum. Mangga lenyepan. Kuayana Citarum, tilu bendungan nyaeta Jatiluhur, Saguling jeung Cirata diwangun ngajadi sumber tanaga listrik, anu migeuykeun 90% tina kahirupan manusa jaman kiwari. Dua puluh opat jam sapoe, kabeh manusa di wewengkon Pasundan (ngawengku Sunda Besar jeung Sunda Kecil) marake listrik anu sumberna ti Citarum. Ku ayana listrik, mesin dijalankeun, wangunan-wangunan dicaangan, jeung teknologi dikembangkeun. Hasil-hasil tina industri, salian dipake ku Urang Sunda, oge sumebar ka lima benua. Jadi tetela pisan Gunung Wayang jeung Citarum-na sanggup mere mangpaat ka manusa sakuliah dunya.

Kukituna munasabah lamun manusa disabudeureun Citarum khususna, di sakuliah Pasundan umumna syukuran jeung sadar kana pentingna walungan Citarum pikeun karaharjaan. Bentuk syukuran bisa diwujudkeun ku ngajaga tur ngokolakeun Citarum sangkan bisa mere mangpaat salalawasna keur kahirupan.

Citarum bihari sarua jeung Citarum kiwari, bedana lamun baheula mah Citarum nu aya di Kota Bandung teh caina herang tembus ka dasar, ari ayeuna caina kiruh pinuh ku runtah. Bihari Pajajaran dihirupan ku Citarum, kiwari Pajajaran wanda anyar oge dihirupan ku Citarum, nu beda ngan waktu jeung nu ngalalakona. Pamingpin Pajajaran wanda anyar kudu bisa nyangking sifat-sifat cai, lain cai nu pinuh ku kokotor jeung runtah, atawa nu pinuh ku barang sampeuran, tapi cai anu datangna ti birit leuwi, ti Gunung Wayang pawayangan manusa.

Selasa, 23 Desember 2008

JANGAN DUSTA, LA TAKZIB

Umur, baik umur manusia atau umur suatu bangsa sangat menentukan. Sebagai manusia, usia 40 tahun seharusnya sudah dalam kondisi konsis. Jika masih ada manusia yang sudah berusia 40 tahun masih juga melakukan ‘amalun shalihun la yardlahu, selamanya dia tidak akan mendapatkan ridha.

Begitu pula suatu bangsa. Manusia yang sudah berusia 40 tahun namun masih tidak konsisten dengan kebaikan, dia akan menjadi manusia yang hancur sebab biasanya pada usia itu manusia harus sudah memiliki wisdom (bijak).

Lalu apa ukurannya? Biasanya kidzib atau dusta. Jika pada usia itu masih senang berdusta, pertanda dia akan terjerumus kepada perbuatan yang bermakna kejahatan. Rasulullah pernah memberi nasihat kepada orang yang datang kepada Rasul untuk masuk Islam. Sesudah syahadatain, “la takdzib” (jangan dusta). Rasul ditanya sampai tiga kali, “sesederhana itu ya Rasul?” Rasulullah selalu menjawab, “la takdzib”.

Kunci kesuksesan seseorang terletak pada pembohong atau tidak pembohongnya. Apakah dia mengidap penyakit kidzib atau tidak. Jika sudah berumur 40 tahun masih bohong hingga menjelang maut pun akan terus berbohong. Jangan berharap menjadi manusia yang bisa menyelesaikan urusannya dengan baik. Sekali lagi, orang yang akan menuju sukses kuncinya “la takdzib”.

Pertanyaannya jika sudah berumur 40 tahun ke atas lalu masih senang kidzib, apa obatnya? Pada prinsipnya setiap penyakit memiliki obat. Ya Allah, mudah-mudahan kita semua tidak termasuk golongan orang-orang kidzib. Maka mari jaga diri dan hati agar jangan sampai terkena penyakit kidzib. Jika merasa sudah kena, segera obati sendiri sebab mengobati diri sendiri dari suatu penyakit yang ada di hati adalah lebih baik.

Bangsa pun demikian. Negara, bangsa atau kelompok masyarakat jika sudah terjangkit penyakit kidzib, grafik bangsa atau negara itu biasanya akan menurun. Sebaliknya jika bangsa atau negara atau kelompok masyarakat bisa mengatasi penyakit kidzib yang ada pada kehidupan mereka, biasanya bangsa atau negara itu cepat maju. Sekali lagi, masyarakat yang terkena penyakit kidzib pasti rusak, namun masyarakat yang bisa sadar dari penyakit itu pasti cepat maju. Bangsa yang melakukan kebajikan dan kebijakan maka masyarakat bangsa itu akan menjadi masyarakat yang bersih dan berwibawa.

Lalu apa yang menjadi ukuran kidzib? Apa yang besarnya diharamkan, maka kecilnya pun diharamkan. Itu ukurannya. Maka dusta kecil pun sesuatu yang berbahaya. Jangan takut melawan dan mengatasi kidzib. Kita mulai pada diri masing-masing, bukan dari orang lain. Itulah yang diistilahkan oleh Rasul, ibda’ bi nafsika, mulailah dari setiap diri.

MARILAH MENGGALANG SOLIDARITAS

Idul Kurban tahun 1429/2008 ini, dunia ditandai dengan terjadinya suatu kesulitan besar dalam menata perikehidupan umat manusia penghuni bumi ini. Bumi yang dihuni berbagai bangsa yang tersebar dalam berbagai negara, secara serentak merasakan kesulitan tersebut, semua menyatakan bahwa negara-negara yang ada masuk dalam krisis yang menakutkan.

Ternyata kesusahan, kesulitan, maupun krisis ini terjadi justru pada saat zaman semakin modern, sains teknologi semakin tinggi; dimana krisis yang dihadapi umat manusia ini bukan semakin tertanggulangi, namun justru semakin meluas dan mendalam
Di dalam situasi krisis dan tantangan yang semakin menghimpit inilah umat manusia selalu diingatkan agar tidak kehilangan semangat dan harapan, dan agar selamat, umat manusia mesti kembali kepada hakekat kehidupannya yakni saling bergandeng tangan menggalang solidaritas, yang kuat menolong yang lemah.

Adalah suatu kebutuhan apabila manusia memandang kemasa depannya (itulah harapan). Harapan akan memperoleh sesuatu itulah yang membuat pekerjaan terasa manis. Dimana ada keyakinan dan keimanan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, yang hidup, yang berprakarsa, bertindak dan bercampur tangan dalam hidup manusia, serta percaya bahwa Ia akan menepati janji-janjiNya, disitu harapan dalam pengertian orang yang beriman menjadi mungkin. Orang beriman yakin, bahwa hal-hal yang ia harapkan akan menjadi kenyataan dan harapannya tidak akan mengecewa¬kannya.

Dalam konteks sebagai bangsa Indonesia, dimana himpitan krisis berskala nasional yang kita alami sejak 10 tahun lalu, belumpun dapat dipulihkan secara menyeluruh, kini krisis global sedang menghadang kembali.

Dalam menanggulangi krisis yang terjadi silih berganti yang belum tertanggulangi secara tuntas ini, sebagai bangsa, kita harus berani mengadakan evaluasi. Apa gerangan yang kita harus tata ulang?
Sebagai bangsa, dalam bernegara, sesungguhnya kita telah memiliki landasan dasar yang kokoh yang mumpuni, sebagai landasan strategi budaya, strategi mengelola cara berpikir, bertindak, bereaksi lokal, nasional, maupun global.
Mungkin yang harus ditata ulang adalah ketaatan dan keberpihakan serta kesetiaan bangsa terhadap asas dan dasar negara yang telah disepakati bersama. Mungkin sebagai bangsa, belum sepenuhnya konsen, untuk meletakkan dasar-dasar negara ini sebagai suatu sistem yang utuh, sehingga tindakan yang dilakukan, orientasinya selalu belum, bahkan tidak berpihak kepada dasar-dasar yang telah disepakati.

Bahwa terjadinya perubahan politik (reformasi) yang dibarengi oleh terjadinya krisis ekonomi jilid I di negara kita, yang telah berjalan 10 tahun, kita selalu saja menyaksikan sajian tindakan-tindakan yang selalu antagonistis terhadap dasar-dasar negara yang telah disepakati.

Sebagai negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut kepercayaannya.
Jaminan yang diberikan oleh dasar dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia ini sungguh sangat mendasar dan menyeluruh bagi bangsanya, tidak terkecuali. Namun dalam praktek kehidupan nyata selama 10 tahun berjalan ini, justru semakin bebas kita menyaksikan kemunafikan sikap sebagian rakyat bangsa Indonesia. Praktek-praktek kebrutalan atas nama agama, kejahatan kemanusiaan atas nama agama dilakukan dengan enteng tanpa beban, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tindakan-tindakan mereka itu mendapat ridlo Tuhan.

Sebagai negara yang berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab, yang telah dijabarkan oleh UUD negara dalam bab hak azasi manusia, yang secara panjang lebar diurai dalam berbagai pasal dan ayat-ayatnya, bahkan dipertegas lagi dalam petunjuk detail berupa UU tentang hak azasi manusia. Semuanya itu agar dapat melindungi manusia/kemanusiaan serta mengajak dan mendorong bangsa Indonesia agar dapat memiliki budaya saling mengorangkan orang.

Dalam konteks budaya saling mengorangkan orang ini, kita bangsa Indonesia masih perlu terus memupuk dan meningkatkan kemampuan.
Walhasil, seluruh dasar negara Indonesia yang kita simpulkan sebagai ajaran Illahi dan merupakan ideologi modern ini, akan menjadi tidak bermakna, jika tidak menjadi pola pikir, sistem berpikir dan bertindak bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kembali kepada tajuk utama pesan Idul Kurban tahun ini “menggalang solidaritas sesama bangsa”, mari kita yakini bahwa kita bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk, majemuk dalam kesukuan, keagamaan, ras , dan golongan, namun menyatu dalam kebangsaan, yakni Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali yang hidupnya dapat lebih bermanfaat dan menyebarkan manfaat bagi kemaslahatan hidup bangsanya dan manusia pada umumnya.

Tatkala bangsa ini dapat menyingkirkan/mengendalikan keangkuhannya dan rasa superioritas kesukuan, keagamaan, ras, dan golongannya, maka akan terkikis rasa saling curiga, saling merasa benar sendiri, angkuh, yang pada gilirannya akan tumbuh rasa saling toleransi dan terbukalah semangat dan harapan untuk menata masa depan bersama yang cerah.

Solidaritas yang kita maksudkan adalah, sifat satu rasa, senasib, setia kawan, dll. Sifat solider semacam ini baru akan timbul jika kita telah menyatu dalam pola pikir dan sistem berpikir bersumber dari dasar yang sama, yakni nilai-nilai dasar negara Indonesia yang telah disepakati. Dengan didukung oleh potensi-potensi yang dimilki oleh warga bangsa dan didukung oleh rasa solidaritas yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan, kita yakin, harapan kita untuk masuk kedalam masa depan yang cerah dalam wujud Indonesia Kuat, menjadi sangat mungkin untuk wujud.

Harapan memasuki masa depan bersama yang cerah dalam bentuk Indonesia menjadi Kuat merupakan pengharapan akan kemuliaan masa depan dan keselamatan nya. Dan harapan akan keselamatan ini adalah sebuah “topi baja” suatu bagian yang paling penting dari pakaian besi untuk perang melawan kejahatan kemanusiaan.

Harapan yang kita maksud, tidak seperti layang-layang, yang tergantung kepada angin yang berubah-ubah, melainkan seperti “sauh jiwa yang tetap mantap dan tidak berubah”, menembus jauh kedalam alam abadi yang tidak nampak. Ini maknanya kita harus membuang jauh-jauh rasa cemas menyongsong hari esok, sebab hari esok ada dalam genggaman Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dengan bermodalkan solidaritas sesama bangsa dan sikap toleransi yang tinggi antara sesama warga bangsa, dan dengan Kekuatan Besar serta kasih sayangNya, akan memampukan kita berbuat hal-hal yang besar, bahkan melebihi apa yang telah kita perbuat selama ini, untuk mengatasi kesulitan, tantangan dan krisis yang menghimpit secara nasional maupun global. Dan kita diberi kemampuan melihat masa depan, ke suatu masa dimana kita akan terus mengambil bahagian untuk kestabilan dan ketertiban dunia.
Kita yakin, karena bangsa Indonesia secara demokratis telah membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kiranya pemerintah dengan bergandengan tangan bersama segenap lapisan rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 230 juta orang, dan dengan solidaritas yang tinggi, dapat menanggulangi tantangan besar yang dihadapi.
Pemerintah bersama rakyat Indonesia dalam menata perekonomian nasional dan mewujudkan suatu keadilan sosial semestinya selalu konsisten / istikomah terhadap konstitusi, berpihak pada sebesar-besar kemakmuran rakyat dan berprinsip kebersamaan. Kemampuan pemerintah dalam mengemban tugas negara berdasar konstitusi selalu diuji dan dinilai oleh rakyat. Keberhasilan ataupun sebaliknya, rakyat pula yang akan memberi penilaian, melalui sistem demokrasi.

Pada tahun 2009 yang akan datang ini bangsa Indonesia kembali akan mengadakan pemilihan umum, sebagai penilaian terhadap kerja dan kinerja pemerintah selama periode pemerintahannya, dan untuk memberi mandat baru bagi pemerintah berikutnya.
Kita berharap pilihan rakyat akan membawa hasil, dengan tampilnya pemimpin pemerintahan yang berkemampuan menanggulangi berbagai problem yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia, dan untuk itu mari kita sukseskan pelaksanaannya.