Powered By Blogger

Minggu, 18 April 2010

Ihsan (Perbuatan Baik)

Bismillahirohmanirrohim

Assalamu’alaikum waroh matullohi wabarokatuh

Pengertian
• Ihsan dianalogikan sebagai atap bangunan Islam (Rukun iman adalah pondasi, Rukun Islam adalah bangunannya).
• Ihsan (perbuatan baik dan berkualitas) berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keislaman seseorang. Jika seseorang berbuat ihsan, maka amal-amal Islam lainnya akan terpelihara dan tahan lama (sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan Islam)
Landasan ihsan
1. Landasan Qauliy
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat ihsan terhadap segala sesuatu. Maka jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang ihsan, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan (menenangkan & menen-tramkan) hewan sembelihan itu” (HR Muslim). Tuntutan untuk berbuat ihsan dalam Islam yaitu secara maksimal (terhadap segala sesuatu: manusia, hewan) dan optimal (terhadap yang hidup maupun yang akan mati)

2. Landasan Kauniy
Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunatullah setiap orang suka akan perbuatan yang ihsan.
Alasan Berbuat Ihsan, Ada dua alasan mengapa kita berbual ihsan:
1. Adanya Monitoring Allah (Muraqabatullah)
Dalam HR Muslim dikisahkan jawaban Rasul ketika ditanya malaikat Jibril yang menyamar sebagai manusia, tentang definisi ihsan: “Mengabdilah kamu kepada Allah seakan-akan kamu melihat Dia. Jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia meIihatmu”.
2. Adanya Kebaikan Allah (Ihsanullah)
Allah telah memberikan nikmatnya yang besar kepada semua makhlukNya (QS. 28:77 QS. 55, QS. 108: 1-3)
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenimatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. 28:77)

Dengan mengingat Muraqabatullah dan Ihsanullah, maka sudah selayaknya kita ber-Ihsanun Niyah (berniat yang baik). Karena niat yang baik akan mengarahkan kita kepada:
1.Ikhlasun Niyat (Niat yang Ikhlas)
2. Itqonul ‘Amal (Amal yang rapi)
3. Jaudatul Adaa’ (Penyelesalan yang baik)
Jika seseorang beramal dan memenuhi kriteria di atas, maka ia telah memiliki Ihsanul ‘Amal (Amal yang ihsan).
Ada 3 keuntungan jika sesorang meramal dengan amal yang ihsan:
1) Dicintai Allah

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 2:195)

2) Mendapat Pahala “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar”. (QS. 33:29)

3) Mendapat Pertolongan Allah “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. 16:128)
Kesimpulan :
Jadi untuk beramal ihsan harus memenuhi kriteria:
1) Zhohirotul Ihsan (Menampakan Ihsan). Artinya: Melakukan yang terbaik !
2) Qiimatul Ihsan (Nilai Ihsan). Artinya: Ikhlaslah selalu!

Hadza wallohi yar’ana wayahfadna walkhamdulillahi robbil’alamin

Makna Syahadat (Bai'ah)

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Pendahuluan
Kalimat syahadat adalah pintu gerbang seseorang menjadi muslim. Ketika seseorang ingin masuk Islam, hal pertama yang dilakukan adalah mengucapkan “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaddar rosuulullaah”. Dengan ucapan tersebut ia otomatis sudah menjadi seorang muslim yang memiliki konsekuensi menjalankan syariat Islam. Kalimat ini pulalah yang menentukan seseorang itu husnul khatimah atau su’ul khatimah di akhir hayatnya. Dengan kalimat ini pula pintu syurga terbuka untuknya.
Konsep yang terkandung dalam kalimat laa ilaaha illallaah adalah konsep pembebasan manusia dari penghambaan apapun kecuali Allah SWT semata-mata. Manusia menafikkan secara langsung segala bentuk ketuhanan yang ada di alam ini, kecuali hanya Allah SWT. Penolakan tersebut bertujuan untuk membersihkan aqidah dari syubhat ketuhanan dan menegaskan bahwa segala arti dan hakikat ketuhanan itu hanya ada pada Allah.
Kalimat syahadah ini memberikan pemahaman kepada kita dalam memahami dan bersikap bahwa tidak ada pencipta kecuali Allah saja, tiada pemberi rizki selain Allah, tiada pemilik selain Allah, tiada yang dicintai selain Allah, tiada yang ditakuti selain Allah, tiada yang diharapkan selain Allah, tiada yang menghidupkan dan mematikan selain Allah, tiada yang melindungi selain Allah, tiada daya dan kekuatan selain Allah dan tiada yang diagungkan selain Allah. Kemudian pengakuan Muhammad Rasulullah adalah menerima cara menghambakan diri berasal dari Rasulullah SAW sehingga tata cara penghambaan hanya berasal dari tuntunan Allah yang disampaikan kepada rasul-Nya.
Oleh karena itu syahadatain menjadi suatu pondasi dari sebuah metode lengkap yang menjadi asas kehidupan umat muslim. Dengan pondasi ini kehidupan Islami akan dapat ditegakkan. Semakin dalam pemahaman kita terhadap konsep syahadatain dan semakin menyeluruh kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka semakin utuh kehidupan Islami tumbuh dalam masyarakat muslim.
II. Definisi Syahadah
1. Secara bahasa, “Asyhadu” berarti saya bersaksi. Kesaksian ini bisa dilihat dari waktu, termasuk dalam aktivitas yang sedang berlangsung dan masih sedang dilakukan ketika diucapkan Asyhadu ini sendiri memiliki tiga arti:
a. Al I’lan (pernyataan), QS. Ali Imran (3 : 18) “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
b. Al Wa’d (janji), QS. Ali Imran (3 : 81) “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman : Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

c. Al Qosam (sumpah), QS. Al Munafiqun (63 : 2) “Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.
2. Secara istilah syahadat merupakan pernyataan, janji sekaligus sumpah untuk beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya melalui :
a. Pembenaran dalam hati (tasdiqu bil qolbi)
b. Dinyatakan dengan lisan (al qaulu bil lisan)
c. Dibuktikan dengan perbuatan (al ’amalu bil arkan)
Menurut hadist : “Iman adalah dikenali oleh hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan rukun-
rukunnya”. (HR Ibnu Hibban)
Setelah memahami syahadah maka akan muncul keimanan, keimanan ini harus terus disempurnakan
dengan sikap istiqomah, QS. Al Fushilat (41)
Istiqomah yang benar akan menghasilkan :
a. Syaja’ah (berani), QS.Al Maidah (5 : 52) “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (yahudi dan Nasrani), seraya berkata: Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.
b. Ithmi’nan (ketenangan), QS Ar Ra’du (13 : 28) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
c. Tafa’ul (optimis)
III. Jenis-jenis Syahadah
a. Syahadah Rububiyah yaitu pengakuan identitas terhadap Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa,
QS. Al A’raf (7 : 172) “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Rabbmu. Mereka menjawab: Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”.
b. Syahadah Uluhiyah yaitu : pengakuan loyalitas terhadap Allah sebagai satu-satunya supremasi yang boleh disembah dan ditaati, QS. Al A’raf (7 : 54) “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam”.
c. Syahadah risalah yaitu pengakuan terhadap diri Muhammad SAW sebagai utusan-Nya beliau adalah suri tauladan bagi manusia, QS. Al Ahzab (33 : 21) “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Hadza wallohi yar’ana wayahfadna walkhamdulillahirobbil’alamin

Selasa, 06 April 2010

“Mencintai Allah dan Berusaha untuk menggapai cinta-Nya”

“Mencintai Allah dan Berusaha untuk menggapai cinta-Nya”


Mahabatullah (cinta kepada Allah) akan timbul manakala seorang hamba merasa begitu dekat dengan Allah, Perasaan ini akan tertanam dan tumbuh bila kita selalu taqarrub kepada Allah dengan ma’rifat yang kuat. Kita tahu dan sadar betapa Maha Kuat dan Perkasa-Nya Allah, namun betapa kasih dan sayang Dia kepada hamba-Nya. Ridla dan cinta-Nya senantiasa Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, selalu taqarrub kepada-Nya.

Allah pun cemburu ketika cinta-Nya dikhianati, yakni ketika seorang hamba lebih mengutamakan cinta kepada selain-Nya. Atau ketika hamba durhaka dan maksiat kepada-Nya. Bila kecemburuan Allah tak pernah kita hiraukan, maka akan berubah menjadi kemurkaan-Nya. Tak seorangpun yang akan sanggup menahan atau menghadapi kemurkaan Allah, Naudzubillahi min dzalik.

Kecintaan kepada Allah tidak akan ada ketulusan dan kemurnian kecuali dengan tauhid yang benar, menjadikan Allah sebagai loyalitas tertinggi dan otoritas mutlak dalam segala hal. Hal ini dilandasi dengan keyakinan kalimat thoyyibah : Laa Maalika illallah, Laa Rozaqa illallah, Laa Waliyya illallah, Laa Hakima illallah, Laa ilaaha illallah, Laa Ma’buda illallah, Laa Makshuda illallah, Lam Yakhsyaa illallah. dst.

Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan melahirkan cinta prioritas yakni menjadikan Allah, Rasul dan Jihad diatas segala cinta selainnya. Ketaatannya kepada Rasul dan Jihad fii sabiilillah dirasakan nikmat dan tenteram karena ketinggiannya cinta pada Allah. Sungguh tidak bisa dipisah antara cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah. Ketiga kecintaan tersebut merupakan satu paket yang tidak bisa dibagi-bagi.

Kecintaan kepada Allah sudah pasti harus dibuktikan dengan mencintai kalamullah atau ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (tertulis), maupun yang Kauniyah (tidak tertulis). Maka tadarus, tadzabur dan amaliyah Al-Qur’an menjadi hal yang utama. Selanjutnya ia mencintai Rasul-Nya dan Jihad fii sabiilillah.

Seorang hamba yang sangat cinta kepada Allah, ia ridla untuk berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah, shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Tawakkal dan rasa kebersamaan dengan Allah senantiasa menyertai perjalanan hidupnya. Ini semua terjadi karena cinta telah melahirkan kedamaian dan ketenteraman, cinta telah membuahkan kerelaan dan kepasrahan totalitas, cinta mendorong diri pada kesiapan berkorban. Dengan cinta lah semua cobaan jadi terasa ringan, segala beban berat menjadi nampak kecil. Namun dengan cinta pula rasa takut dan khawatir ditinggalkan yang dicintai mengharu biru perasaan. Karena itu, berjihadlah dengan cinta yang penuh kepada Allah, dan sambutlah kehadiran sang kekasih sejati di taman hati, serta penuhilah titahnya untuk mentaati Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Loyalitas Kecintaan Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan diantara manusia, ada yang menjadikan dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Berdasarkan ayat ini, sungguh sangat berbeda antara puncak kecintaan orang-orang beriman dan orang – orang yang kafir. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 24.

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Firman Allah ini menjelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang fasik. Allah mengambarkan orang-orang beriman puncak kecintaannya kepada 3 sasaran, yakni kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

Sedangkan orang-orang yang fasik, puncak kecintaannya kepada 8 sasaran, yakni; Bapak, anak, saudara, istri, kerabat, harta berlimpah, perniagaan (maisyah), dan tempat tinggal yang disenangi. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik

Dalam mewujudkan ketulusan cinta, tidak selamanya berjalan mulus. Banyak halangan dan rintangan, rayuan dan godaan, cacian dan makian, bahkan ancaman dan intimidasi datang silih berganti. Hanya orang-orang yang ikhlas, yang dapat menikmati ketulusan cinta kepada Allah.

Kecintaan dan keta’atan kepada Allah harus juga dibuktikan dengan ta’at kepada Rasul-Nya, dan ta’at kepada Ulil Amri selama haq (benar), kemudian tanpa ragu-ragu ia beriman dan berjihad di jalan-Nya. (QS. An-Nisaa: 59, An-Nuur: 51, Al-Hujuraat: 15)

Cinta, Terimakasih dan Ma’af

Buah dari cinta kepada Allah dapat melahirkan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Hal itu terjadi karena Islam tidak memisahkan hablu minallah dengan hablu minanas, tidak memisahkan antara aqidah (iman) dengan ukhuwwah (persaudaraan). Oleh karena itu, merawat cinta itu menjadi hal yang penting. Cinta kepada Allah dirawat dengan memprioritaskan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat-Nya serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan.

Demikian pula hubungan harmonis sesama muslim dapat dirawat dengan cinta yang tulus, terima kasih dan ma’af.

Cinta, terima kasih dan maaf.

Tiga kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikan dan meremehkannya. Padahal ketiga kata itu mampu membangkitkan rasa ‘penghargaan’ dan jati diri. Karena cinta, kita merasa disayangi, kita merasa hidup, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai dan dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Ridla berkorban dengan segala resiko terpahit sekalipun. Ridla menahan lapar dan dahaga saat berjuang menegakkan sunnah. Shabar ketika harus bermandikan peluh dan bersimbah darah di medan jihad. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.

Begitupun juga dengan terima kasih, ada rasa penghargaan dalam ucapan itu, ada rasa penghormatan dan kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dan kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dan kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dan merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan. Islam mengajarkan, cara kita mengungkapkan terima kasih dengan ucapan: Jazaakallahu khairan (Semoga Allah membalas kebaikanmu). Adapun maaf adalah bukti kesadaran seseorang, penenang jiwa dan aplikasi dari sikap rendah hati dan cinta kepada Allah. Tidak ada dengki dan dendam dalam ungkapan mohon maaf. Kata maaf dapat menghapus kebencian, dapat menanamkan kecintaan, dapat menghilangkan kegelisahan. Rasa bersalah dapat lenyap dengan ungkapan maaf, rasa iri dapat terkikis dengan maaf yang tulus. Kata maaf merapatkan ukhuwwah (persaudaraan), kata maaf menumbuhkan marhamah (kasih sayang).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah sosok paling ideal dalam mewujudkan cinta, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dan memaafkan. Beliau sangat mencintai keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya. Kecintaannya pada sahabat mendorong pengorbanan luar biasa di Perang Uhud, Hunain dll. Ungkapan terima kasih dan kata maaf beliau ungkapkan, kepada budak sekalipun, tidak ada gengsi dan merasa hina untuk mengungkapkan kata-kata mulia tersebut. Bila perlu Rasulullah melakukan tebusan untuk mendapat kata maaf.

Saat Futuh Mekkah terjadi, ketika sahabat berkata ” Ini hari pembalasan”, Rasulullah bersabda; Bukan, “Ini hari kasih sayang”. Maka beliau pun tidak menolak keislaman Wahsyi dan Hindun yang telah membunuh dan merobek dada Hamzah, pamannya. Sekiranya beliau pendendam, tentu tidak akan mau menerima keislaman Wahsyi dan Hindun.

Demikian pula di akhir hayatnya, beliau Shalallahu Alaihi Wasallam meminta maaf dan minta dibalas jika ada diantara yang hadir pernah disakitinya. Maka berkatalah seorang sahabat bernama Ukasah: Ya, Rasulullah, dalam suatu peperangan, aku pernah terkena pukulan olehmu, maka kini izinkan aku untuk membalasnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mempersilahkannya, Ukasah berkata ; Ya Rasulullah, waktu itu aku dalam keadaan telanjang. Maka Rasul pun membuka bajunya. Namun, begitu dimuka baju Rasulullah, Ukasah merangkul tubuh beliau dan menuturkan : Ya Rasulullah, aku mencintaimu, Maka Rasulullah bersabda : “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Rasa haru biru dan linangan air mata Rasul dan para sahabat saat itu menjadi saksi dan bukti saling mencintai karena Allah. (sumber: Sirah Nabawiyah, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam)

Sudahkah hari ini kita ungkapkan kata cinta, terima kasih dan maaf pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, adik kita, kakak kita, nenek kita, kakek kita, suami kita, isteri kita, sahabat kita, teman-teman kita, dan bahkan kepada para karyawan dan pembantu kita. Banyak cara untuk mengungkapan cinta, terima kasih dan maaf, antara lain: kejujuran pengakuan, perhatian, hadiah, senyuman dan do’a. Sudahkah kata cinta, terima kasih dan mohon maaf terucap dari lisan kita yang tulus pada orang-orang di sekitar kita?

Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta, terima kasih dan mohon maaf atau ampun, kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah, Ridla kepada-Nya dan diridlai oleh-Nya. Amiin.


Hadza wallahi yar’ana wayah fadna walhamdulillahi robbil’alamin